Minggu, 27 April 2014

Perbandingan fasilitas Umum

            Dalam kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan mengenai fasilitas umum yaitu stasiun Pondok Cina yang terletak di depok  dengan Stasiun Bogor yang terletak di bogor.



            Untuk yang pertama penulis akan menjelaskan stasiun pondok cina, saya beserta kelompok memubat pengamatan di  sekitar dan di dalam stasiun pondok cina , sebelum kami masuk ke pintu utama masuk stasiun pondok cina kami melihat banyak para penjual minuman dan kaki lima yang berjajar di depan stasiun pondok cina, tidak hanya iturumah makan dan took-toko yang bertempat di lokasi tersebut begitu banyak, yang mengakibatkan arus kendaraan bermotor terhambat begitu juga dengan pejalan kaki, masuk ke pintu utama stasiun pondok cina terlihat beberapa orang sedang mengantri di depan loket pembelian tiket kereta api, selain ada orang yang membeli tiket ada juga beberapa orang yang duduk santai sambil menikmati jajanan depan stasiun, da nada pula yang tidur-tiduran. Setelah kami membeli tiket kami di berikan sebuah kartu yang digunakan untuk masuk ke area tunggu kereta api dengan menempelkan ke sebuah alat ntuk membuka penghalangnya , begitu masuk tampilan dalam stasiun pondok cina terlihan bersih dan damai dengan orang-orang yang sedang menunggu kereta datang dengan berdudu santai di tempat duduk yang sudah di sediakan.



            Lalu kami naik kereta api yang sudah tiba dengan arah tujuan kami, selang beberapa menit kami sampai di stasiun kota bogor, stasiun bogor adalah stasiun dengan pemberhentian terakhir , jadi semua orang yang berada di dalam kereta api yang baru saja tiba diharuskan keluar, setelah kami keluar dari gerbong kereta api tersebut kami suguhkan dengan pemandangan yang sangat ramai dengan orang-orang yang sedang  menunggu kereta, dibandingkan stasiun pondok cina stasiun kota bogor lebih ramai . tidak hanya ramai , stasiun kota bogor lebih luas jika dibandingkan dengan stasiun pondok cina dan terlihat lebih modern, jika di pondok cina ada orang-orang yang berjualan di depan stasiunnya berbeda dengan stasiun kota bogor terdapat beberapa took yang sudah ada dan menyediakan beberapa makanan dan minuman, dan untuk segi kebersihan stasiun pondok cina terlihat lebih bersih dibandingkan stasiun kota bogor, yang dikarenakan stasiun kota bogor begitu ramai, dan untuk segi pelayanan diantara kedua stasiun tersebut tidak beda jauh dengan keramahanya dan kesopanannya .


              Sekian penjelasan yang penulis berikan semoga bermanfaat bagi para pembaca di kemudian hari

                                                                                                            TERIMAKASIH

Ini adalah beberapa galeri yang kami miliki:

stasiun pondokcina







Stasiun kota Bogor






Rabu, 02 April 2014

Sejarah Dan Perkembangan Teknologi MIGAS INDONESIA

 SEJARAH MIGAS INDONESIA

Minyak bumi mulai dikenal oleh bangsa Indonesia mulai abad pertengahan. Orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola api saat memerangi armada Portugis. Perkembangan migas secara modern di Indonesia dimulai saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871, yaitu di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink. Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkandan akhirnya ditutup.

Penemuan sumber minyak yang pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1883 yaitu lapangan minyak  Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan oleh seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker. Penemuan ini kemudian disusul oleh penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Penemuan lapangan Telaga Said oleh Zeijlker menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini  dikenal sebagai Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa Tengah, Minyak Hitam di dekat Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga, Kalimantan.

Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang kemudian denganShell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum Company. Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group yang terdiri atas B.P.M., yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun kemudian diambil alih oleh B.P.M.

Pada tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia. Pertama kali dibentuk perusahaan N.V. Standard Vacuum Petroleum Maatschappij atau disingkat SVPM. Perusahaan ini mempunyai cabang di Sumatera Selatan dengan nama N.V.N.K.P.M (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) yang sesudah perang kemerdekaan berubah menjadi P.T. Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan Pendopo pada tahun 1921 yang merupakan lapangan terbesar di Indonesia pada jaman itu.

Untuk menandingi perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dengan B.P.M. yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij. Dalam perkembangan berikutnya setelah perang dunia ke-2, perusahaan ini berubah menjadi P.T. Permindo dan pada tahun 1968 menjadi P.T. Pertamina.

Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika baru yaitu Standard Oil of California dan Texaco. Kemudian, pada tahun 1930 dua perusahaan ini membentuk N.V.N.P.P.M (Nederlandsche Pasific Petroleum Mij) dan menjelma menjadi P.T. Caltex Pasific Indonesia, sekarang P.T. Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi besar-besaran di Sumatera bagian tengah dan pada tahun 1940 menemukan lapangan Sebangga disusul pada tahun berikutnya 1941 menemukan lapangan Duri. Di daerah konsesi perusahaan ini, pada tahun 1944 tentara Jepang menemukan lapangan raksasa Minas yang kemudian dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950.

Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian Jaya dibentuk perusahaan gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij) dengan hak eksplorasi selama 25 tahun. Hasilnya pada tahun 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele. Namun, karena hasilnya dianggap tidak berarti akhirnya diseraterimakan kepada perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Pertamina tahun 1965.

Setelah perang kemerdekaan di era revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadi pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1945 didirikan P.T. Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 menjadi perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara. Pada tahun 1957 didirikan P.T. Permina oleh Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi P.N. Permina pada tahun 1960. Pada tahun 1959, N.I.A.M. menjelma menjadi P.T. Permindo yang kemudian pada tahun 1961 berubah lagi menjadi P.N. Pertamin. Pada waktu itu juga telah berdiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur P.T.M.R.I (Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia) yang menjadi P.N. Permigan dan setelah tahun1965 diambil alih oleh P.N. Permina.

Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan diganti dengan sistem kontrak karya. Tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.M. Permina. Tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan B.P.M. – Shell Indonesia oleh P.N. Permina. Pada tahun itu diterapkan kontrak bagi hasil (production sharing) yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi P.N. Permina dan P.N. Pertamin. Perusahaan asing hanya bisa bergerak sebagai kontraktor dengan hasil produksi minyak dibagikan bukan lagi membayar royalty.

Sejak tahun 1967 eksplorasi besar-besaran dilakukan baik di darat maupun di laut oleh P.N. Pertamin dan P.N. Permina bersama dengan kontraktor asing. Tahun 1968 P.N. Pertamin dan P.N. Permina digabung menjadi P.N. Pertamina dan menjadi satu-satunya perusahaan minyak nasional. Di tahun 1969 ditemukan lapangan minyak lepas pantai yang diberi nama lapangan Arjuna di dekat Pemanukan, Jabar. Tidak lama setelah itu ditemukan lapangan minyak Jatibarang oleh Pertamina. Kini perusahaan minyak kebanggaan kita ini tengah berbenah diri menuju perusahaan bertaraf internasional.







                                              TEKNOLOGI PROSES
Kompetensi yang tinggi dalam teknologi proses mampu mengoptimalkan pengolahan minyak dan gas bumi dengan tepat guna dan ramah lingkungan.



Teknologi proses minyak dan gas bumi telah mencapai tahap yang sangat canggih melalui kegiatan penelitian dan pengembangan dengan tingkat akurasi yang tinggi dengan menggunakan perangkat yang andal yang dibutuhkan industri minyak dan gas bumi. Keahlian LEMIGAS dalam bidang teknologi proses ini meliputi teknologi separasi, kimia analitik dan terapan, proses konversi dan katalisa, bioteknologi, teknologi lingkungan serta enjinering dan pemodelan. Dengan tenaga pelaksana yang terampil dan kompeten, hasil yang dicapai dapat mengoptimalkan pemanfaatan minyak dan gas bumi.



Teknologi Separasi

Mencakup indentifikasi, penilaian, dan evaluasi sistem separasi terkini termasuk pengembangan sistem separasi seperti gas asam hidrokarbon,hidrokarbon berat, minyak sintetis dari batu bara, dan minyak dalam sistem pembuangan air.



Kimia Analitik dan Kimia

Terapan Bidang ini mencakup pengujian sifat fisika kimia untuk mengetahui karakteristik dan kualitas minyak bumi dan produknya, penentuan dan evaluasi bahan kimia untuk industri minyak, analisis limbah, dan program penentuan kualitas seperti korelasi data laboratorium.



Teknologi Proses Konversi dan Katalisa

Kegiatan ini mencakup antara lain optimasi proses dan integrasi, pengembangan katalis baru, pengujian dan evaluasi katalis serta kajian proses yang baru.



Bioteknologi

Teknologi ini termasuk aktivitas mikroba dalam peningkatan perolehan minyak, penanganan limbah migas secara bioremediasi (biologis), kontaminasi dan deteriorasi BBM, pemanfaatan mikroba dalam pengembangan biogas yang mencakup skala laboratorium dan lapangan.



Teknologi Lingkungan

Teknologi lingkungan mencakup kegiatan identifikasi, prediksi dan mitigasi dampak lingkungan. Penggunaan teknologi lingkungan juga ditujukan untuk meremediasi lingkungan lahan - lahan tercemar minyak bumi, melalui metodametoda termal, fisika, kimia dan biologi.



Enjinering dan Pemodelan

Kegiatan ini meliputi perancangan proses, pemodelan/simulasi proses, optimasi dan integrasi proses, fasilitas plant dan permukaan, analisis jaringan pipa, pengembangan dan pembaruan dari data base minyak bumi Indonesia

GALERY